Breaking

Tuesday, September 11, 2018

DKI Dibawah Anies PHP, Atlet Peraih Medali Emas Tak Jadi Mendapat Tambahan Bonus?


DKI Jakarta - Alasan penulis sangat menyetujui para atlet peraih medali emas mendapatkan bonus yang besar adalah, yang pertama mereka berjuang demi mengharumkan nama negara. Selain itu, untuk menjadi atlet itu dibutuhkan kerja keras, disiplin dan pengorbanan baik waktu maupun materi. Di tambah lagi, mereka tidak selalu mendapatkan pendapatan yang besar selain itu.

Penulis dan mungkin para pembaca lebih setuju, jika sedikit anggaran disisihkan untuk memberi bonus kepada para atlet ketimbang dijadikan bancakan para koruptor.

Jika pemerintah pusat bukan sekedar wacana, tetapi langsung memberikan bonus ketika keringat para atlet belum kering, berbeda dengan pemprov DKI dibawah pimpinan Anies. Sebelumnya pernah mewacanakan untuk menaikan bonus para atlet asal DKI Jakarta yang memperoleh medali emas, tetapi kini sepertinya kandas di tepi jalan.

Pemprov DKI melalui Disorda awalnya berwacana ingin menaikan bonus atlet peraih medali emas dari 300 juta menjadi 750 juta, tetapi diurungkan. Berbagai alasan diberikan terkait batalnya kenaikan bonus tersebut.

"Tadinya memang akan diusulkan bonus untuk emas itu Rp 750 juta. Namun, setelah kami konsultasi dan disetujui sesuai Kepgub, bonusnya tetap Rp 300 juta untuk peraih emas plus pajaknya ditanggung APBD," ujar Ratiyono.

Ada ungkapan yang lucu dari Ratiyono mengenai bonus bagi atlet. "Justru jangan kemudian diguyur bonus yang berlebihan malah jadi enggak nyaman, yang kita dorong adalah fighting spirit-nya," ujar Ratiyono seperti yang dilansir oleh kompas.com.

Menurut saya, justru dengan memperhatikan bonus yang tidak selalu diperoleh tersebut, para atlet semakin bersemangat. Dunia olahraga tidak dipandang sebelah mata bagi orang tua, sehingga merestui dan menyetujui anak-anaknya untuk menjadi seorang atlet. Berperang demi mengharumkan nama bangsa di pentas olahraga dunia.

Memang saat ini sudah terbalik. Jika dulu Ahok bersama pemprov sering ribut dengan DPRD karena anggaran siluman, eh saat ini justru DPRD yang sering ribut karena mengkritisi anggaran yang diajukan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Terkait wacana penambahan bonus yang mangkrak, DPRD pun mengkritisi keputusan tersebut. DPRD menganggap, bahwa itu perlu dikeluarkan. Apalagi anggaran DKI Jakarta itu sangat besar, jika sekedar menyisihkan sedikit untuk penambahan bonus para atlet pun tidak terasa.

"DKI ini provinsi besar, anggaran Rp 80 triliun, masak kasih atlet berprestasi cuma segitu?" kata Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Mohamad Taufik.

Sebaiknya, jika memang tidak mau menambahkan bonus, pemprov DKI tidak perlu obral janji dan berwacana. Karena wacana tanpa implementasi itu namanya penipuan. Kecuali, jika ada hal-hal yang tidak memungkinkan untuk mewujudkannya. Misalnya DKI Jakarta sedang defisit anggaran.

Tetapi untung saja saat ini pemerintahan pusat di bawah Jokowi perhatian dengan para atlet, sehingga membuat skema yang begitu baik untuk pertumbuhan olahraga di Indonesia. Saat ini, dunia mulai memandang Indonesia. Jika dulu bangsa lain bisa menyepelekan ketika bertanding dengan Indonesia, saat ini mereka sudah harus mulai berfikir bagaimana bisa mengalahkan atlet Indonesia.

Tidak mudah untuk menjadi atlet yang berprestasi, sehingga dapat mengharumkan nama bangsa dengan perolehan medali emas. Proses yang begitu panjang dilakoni. Jika kita tidak bisa memberikan sedikit apresiasi kepada mereka, mungkin negara kita akan menjadi negara terbelakang dalam kompetisi olahraga.

Jika dalam olahraga saja terbelakang, apalagi dibidang lainnya? Karena dalam olahraga itu banyak mental yang dibentuk, dari disiplin, kerja keras hingga pengorbanan.

Seperti yang kita ketahui bersama, dulu banyak orang-orang pintar dan berprestasi dalam banyak bidang tidak diperdulikan oleh negara, sehingga banyak putra-putri terbaik kita yang lebih suka berada di luar negeri, karena di sana mereka lebih dihargai dan mendapatkan tempat istimewa.

Tidak perlu saya carikan contoh, di era digital ini, semua sudah serba terbuka. Informasi dapat dicari dengan mudah.

Namun sialnya, ketika warga Indonesia sudah sukses di luar negeri, banyak orang Indonesia yang nyinyir, kenapa tidak mau membangun di Indonesia, tetapi mengapa justru berada di luar negeri. Oleh sebab itu, pentingnya para petinggi negeri ini koreksi diri, dan memperhatikan putra-putri berprestasi dalam negeri, supaya dapat memajukan negara sendiri.

Sumber:
https://seword.com/umum/dki-dibawah-anies-php-atlet-peraih-medali-emas-tak-jadi-mendapat-tambahan-bonus-zISBuxqFZ

Refrensi":
https://megapolitan.kompas.com/read/2018/09/12/07514431/wacana-kenaikan-bonus-bagi-atlet-dki-jakarta-kandas-di-tengah-jalan

No comments:

Post a Comment