Breaking

Saturday, September 1, 2018

Pelaku Mahar Politik itu Adalah Orang Jahat


Jangan pernah heran ataupun pura-pura bingung bila Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menyatakan laporan dugaan mahar Rp 1 triliun Sandiaga Uno ke PAN-PKS tidak dapat dibuktikan. Dari pemeriksaan, Bawaslu tidak mendapatkan bukti-bukti soal adanya dugaan mahar terkait pencalonan di Pilpres.

https://nasional.tempo.co/read/1122464/dugaan-mahar-tak-terbukti-sandiaga-proses-hukum-transparan

Seribu kali saya akan tetap mengatakan bahwa mahar politik=kentut, tidak bermaksud jorok atau apapun. Faktanya toh apa yang saya bilang benar, kentut itu baunya menyebar kemana-mana, tapi tidak ada satupun yang mau mengaku apalagi sampai bisa ada yang membuktikan.

Intinya terbukti atau tidak, mahar politik begitu heboh mewarnai pencalonan Sandiaga Uno sebagai cawapres dari Prabowo. Dimana Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief yang begitu gigih menuduh dan begitu gigih juga menghindari Bawaslu. Lebih lucu dan ironis adalah Bawaslu yang demikian gagap dan bingung menangani dugaan mahar politik ini.

Toh fakta yang tak terbantahkan adalah pencalonan Sandiaga Uno yang terkesan begitu mendadak, melawan hasil ijtima ulama sekaligus keluar dari hasil konsolidasi dan pertemuan bertubi-tubi dari partai koalisi pengusung capres Prabowo, ini jelas kaitannya dengan proses kelancaran politik. Biaya perhelatan pesta demokrasi itu mahal bro!!

Masih heran? Sudah tentu tidak. Memangnya semua partai pendukung Prabowo mau ramai-ramai saweran untuk pesta perhelatan demokrasi yang sudah tentu tidak murah? Tidak mungkin dan rasanya mustahil mereka tidak berhitung atau cuma-cuma saja mendukung tanpa jelas arah dan tujuannya. Di atas kertas tampaknya Sandi saja yang mampu menanggung kelancaran proses politik itu sekaligus terideal sebagai cawapres Prabowo.

Mengapa Andi Arief masih repot saja berkoar-koar tentang mahar politik? Ini jelas upaya coba-coba, siapa tahu sukses upayanya, AHY bisa dong menggantikan Sandiaga. Tetapi saya cenderung berpikir bahwa PKS dan PAN akan berhitung ulang seandainya Demokrat ngotot dengan AHY nya walaupun dengan kesanggupan mahar politik yang lebih tinggi. Mengapa? Mereka tidak mau rugi juga bila semua berakhir dengan diatur oleh penguasa mahar politik. Sudahlah biarkan saja hal itu menjadi urusan partai politik mereka sendiri.

Ada hal yang menggelitik pikiran saya dengan pernyataan Prof. Mahfud MD yang mengajak jangan golput, untuk mencegah yang jahat berkuasa. Pak Mahfud MD sendiri pasti paham siapa sesungguhnya orang jahat atau mereka yang disebut jahat.

Sedangkan pengetahuan saya yang notabene sebagai rakyat jelata sangat minim hanya mampu berasumsi dan main kira-kira saja tentang pengertian "orang jahat", siapa sebetulnya orang jahat itu? Mengapa disebut jahat?

Dalam pikiran saya pribadi, orang jahat adalah orang yang menganggap persaingan politik ini tak ubahnya persaingan dunia usaha, penuh intrik dan berjalan tanpa moral dan etika. Salah satu ciri orang jahat adalah orang yang melakukan mahar politik demi meraih kekuasaan. Uang sebagai pembeli kekuasaan. Saat mereka berkuasa jangan harap rakyat menjadi prioritas. Target mereka pelaku mahar politik ini hanya mereka hanya korupsi, merampok uang negara.

Satu hal yang pasti, saya pribadi menganggap walaupun tidak pernah terbukti, mahar politik sudah menjadi rahasia umum dikalangan elit partai. Mahar politik sebagai cara untuk memuluskan jalan meraih kekuasaan. Uang sebagai alat peraih kekuasaan. Mahar politik sebagai dasar pendorong korupsi bila mereka telah berkuasa. Tidak percaya?

Ayolah buka mata lebar-lebar dan pahami, rakyat jelata pun harus melek politik. Mari kita mengasah logika kita. Satu pertanyaan penting yang erat kaitannya dengan mahar politik adalah , "Mengapa banyak sekali kepala daerah tersangkut kasus korupsi?"

#kpk #korupsi #koruptor #politik #suap #indonesia

Sumber: https://seword.com/politik/pelaku-mahar-politik-itu-adalah-orang-jahat-Qt1_EeoqI

No comments:

Post a Comment