Breaking

Tuesday, October 2, 2018

Ganja Kualitas Tinggi Papua Nugini Jadi Masalah di RI


NEWSWinBigLose.com Kota Jayapura - Meski sudah ada Pos Lintas Batas (PLBN) Terpadu Skouw, namun penyelundupan ganja asal Papua Nugini masih menjadi problem. Ganja di Papua Nugini termasuk jenis yang berkualitas tinggi.

"Ganja dari Papua Nugini ini termasuk yang berkualitas tinggi. Lebih tinggi dari yang di Aceh. Ini menjadi masalah kita bersama," kata Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Para Raider 501 Kostrad, Letkol Inf Eko Antoni Chandra Listyanto, di Pos Komando Taktis Skouw, Muara Tami, Kota Jayapura, Minggu (9/9/2018).

Berdasarkan buku 'Food and Agriculture in Papua New Guinea' (Australian National University) yang disunting R Michael Bourke dan Tracy Harwood, ganja adalah barang ilegal di Papua Nugini. Diperkirakan, ganja diperkenalkan ke Papua Nugini oleh anak-anak muda dari luar negeri. Mark AR Kleiman dan James E Hawdon dalam 'Encyclopedia of Drug Policy' menyebut anak-anak muda itu adalah orang Australia dan Amerika.

Itu terjadi pada 1960-an dan 1970-an. Sejak saat itu, penggunaan ganja semakin mewabah di Papua Nugini. Bahkan ganja menjadi komoditas orang pelosok Papua Nugini untuk diekspor ke Australia, penggunanya menyebut tanaman itu sebagai "New Guinea Gold". Kini, ganja dari Papua Nugini masuk ke Jayapura, termasuk lewat Skouw.

Baca juga: Rawan Penyelundupan, TNI Gelar Razia di PLBN Skouw

"Hampir setiap bulan ada yang tertangkap oknum Warga Negara PNG membawa ganja ke wilayah kita. Dan bahkan beberapa waktu yang lalu, jumlah WNA PNG yang ditangkap gara-gara ganja itu ada puluhan. Berapa hari yang lalu, bulan lalu sempat melarikan diri," kata Kepala Distrik Muara Tami, Supriaynto kepada detikcom.

Meski berkali-kali aparat Indonesia menangkapi orang-orang Papua Nugini karena mengedarkan ganja, namun kasus serupa terus saja berulang. 

Ini karena ada faktor keekonomian dari ganja yang membuat masyarakat melihat itu sebagai jalan pintas mendapat duit. 

"Mereka melihat sebagai cara mudah mencari uang," kata Supriyanto.

Pihak Satgas Pamtas RI-PNG menunjukkan kepada kami ganja-ganja hasil tangkapannya. Ganja-ganja itu masuk dengan cara ilegal, termasuk lewat jalan tikus dan cara-cara pengelabuan.

Bermacam-macam ukuran, bobot, dan kemasan ganja dibawa orang-orang masuk ke Indonesia. Ada yang berbentuk kecil, dikemas dalam bola-bola kertas alumunium. Ganja dalam bola-bola kecil ini adalah kemasan siap hisap lewat dirokok, harga jualnya Rp 50 ribu di Indonesia. 

Total ada 26,509 kg ganja yang berhasil diamankan Satgas Pamtas sejak 25 Februari 2018. Ini akan diserahkan ke pihak kepolisian. 

Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Satgas Pamtas, Lettu Inf Dian Nurhuda, memperlihatkan contoh-contoh jalan tikus yang berada di sebelah selatan PLBN Skouw. 

Total ada 25 jalan tikus di sekitar sini. Bahkan jalan tikus yang berupa jalan setapak ini ada yang bisa dilintasi mobil. Terlihat jejak ban motor dan mobil di tanah.

"Tiga jalan tikus bisa dilintasi oleh mobil, 19 jalan hanya bisa dilintasi sepeda motor dan pejalan kaki," kata Dian di depan jalan tikus saat gerimis.

Ada pipa air biru melintasi jalan tikus. Ini sekaligus menjadi pembatas antara RI dan Papua Nugini. Wilayah di seberang pipa merupakan wilayah Papua Nugini.

Beberapa masarakat Papua Nugini sering melintasi jalan tikus ini karena mereka mempunyai tanah adat yang teritorinya melintasi negara. 

Komandan Satgas Pamtas RI-PNG, Letkol Inf Eko Antoni Chandra, mengakui jalan-jalan tikus itu menjadi tantangan tersendiri dalam penjagaan perbatasan. Kerawanan penyelundupan memang perlu terus dijaga agar jangan sampai terjadi. Dia menilai perlu ada CCTV untuk menjaga perbatasan ini.

"Memang CCTV saya rasa perlu. Namun perlu juga kita mengadakan patroli udara, baik menggunakan pesawat terbang tanpa awak (PTTA) ataupun menggunakan drone," tutur Chandra. 

Ada juga sirip hiu hingga kulit buaya

Tak hanya ganja, ada pula barang-barang ilegal atau tanpa dokumen yang diselundupkan ke Indonesia. Barang itu misalnya vanili tanpa dokumen, kulit kayu masohi, hingga sirip ikan hiu dan buaya. 

"Kami mengamankan 6,5 kg (57 buah) sirip hiu pada April 2018. Kami amankan karena mereka (pembawa dari Papua Nugini) tak bisa menunjukkan dokumen dari PNG. Dia masuk ke sini di luar jam kerja. Tim Satgas akhirnya yang mendapati mereka," kata Kukuh Hananto.

Kukuh adalah Penanggung Jawab Wilayah Kerja Balai Karantina Ikan, Pengenalian Mutu dan Keamanan, di PLBN ini. Dia melanjutkan, pada Juni 2018, pihaknya juga mengamankan kulit buaya yang coba diselundupkan lewat laut menuju Hamadi. 

Kulit buaya yang diamankan ada 2 lembar. Mereka juga mengamankan 9 tangkur buaya. Ada pula lobster bertelur yang memang tak boleh diperdagangkan.

Berdasarkan penuturan Kukuh, ternyata selain lewat jalan tikus ada pula barang ilegal yang memanfaatkan momen-momen saat petugas PLBN tidak berjaga, yakni melintas PLBN di luar jam kerja sehingga pelintas tak perlu melintaskan barang bawaannya di pemindai sinar x.

Kami sempat mencoba masuk ke ruang-ruang kantor PLBN Skouw. Saat kami berkunjung pada Kamis (6/9/2018) pukl 11.00 WIB, ruang-ruang di PLBN yang megah ini terlihat sepi. Tak ada terlalu mudah mendapatkan orang berjalan di lantai keramik dan kursi-kursi kerja di sini.

Komandan Satgas Pamtas, Letkol Inf Chandra, berharap para petugas di PLBN Skouw bisa bermukim di sekitar Skouw. Soalnya selama ini banyak di antara mereka yang tidak bermukim di lokasi melainkan berrumah di tempat yang jaraknya sekitar 1,5 jam dari PLBN. 

"Ada baiknya bila mereka tinggal dalam satu kompleks sini sehingga kegiatan-kegiatan tersebut bisa kita koordinasikan dengan cepat dan mendapatkan keputusan dengan cepat juga," kata Chandra.

Sejak 25 Februari 2018, aparat telah mengamankan 26,509 kg ganja, 596 botol miras, 303 batang kayu ilegal, 450 kg kulit kayu masohi, 9,6 kg sirip hiu, 6 kg kayu gaharu, 2 lembar kulit buaya, hingga 2 ekor buaya ilegal, dan 1 ekor burng cenderawasih. 

Sumber: 


No comments:

Post a Comment