Breaking

Sunday, October 7, 2018

kembali ke zaman barbar, Masih di Oposisi Saja Amien Hingga Rizieq Tak Taat Hukum


NewsWinBigLose.com - Amien Rais dipanggil oleh pihak yang berwajib terkait penyebaran hoax Ratna Sarumpaet bonyok. Tetapi ia tidak hadir memenuhi panggilan dari pihak yang berwajib. Kalau saya secara pribadi sih tidak kaget.

Kita harus bisa berkaca dari kasus lain yang menimpa orang-orang yang berdiri di kubu oposisi akan mempunyai kesamaan yaitu mangkir terhadap panggilan hukum. Contohnya adalah Rizieq, beberapa kasus yang dituduhkan terhadap dirinya hingga saat ini gak ada yang kelar, bahkan ada yang di SP 3 kan.

Meskipun mereka masih berada di kubu oposisi tetapi mereka sudah tidak taat terhadap hukum, saya tidak bisa membayangkan ketika nanti mereka berada di kubu pemerintahan. Saya jadi berfikir Indonesia akan kembali ke zaman jahiliyah, dimana hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Memang susah saat ini, ketika agama dicampur adukan dengan politik. Seperti yang kita ketahui bersama, Rizieq dan Amien Rais dianggap oleh kelompoknya sebagai tokoh agama. Menjadi sangat rentan jika hukum bersinggungan dengan mereka, sebab ini merupakan hal yang sensitif, ditambah lagi masih banyak masyarakat yang gampang terprovokasi, jika berkaitan dengan agama.

Tetapi, ketika hukum tidak ditegakkan, suatu negara berpotensi bubar dan kembali ke zaman barbar. Seperti yang kita ketahui bersama, hukum positif itu sangat penting dalam menjaga tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Membatasi dan menjaga norma-norma yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

Hukum positif adalah hukum yang baik secara universal, dapat diterima dengan akal sehat manusia. Kepastian hukum disuatu negara akan menentukan banyak hal dari kerukunan hingga perekonomian suatu negara.

Dalam negara yang tidak memiliki kepastian hukum, akan sering terjadi konflik karena orang bertindak sesuka hati dan melenggang tanpa bisa disentuh oleh hukum. Misalnya, seorang provokator yang dibiarkan, suatu saat pengikutnya akan banyak dan menjadi bertindak semau-maunya, maka akan muncullah faksi-faksi di masyarakat. Negara menjadi amburadul dan berpotensi bubar.

Mari kita bandingkan dengan Ahok. Meskipun ia tidak korupsi, dan bekerja dengan benar untuk kemajuan DKI Jakarta, serta mengabdikan diri sebagai pelayan masyarakat, tetapi ketika ia tersangkut masalah hukum akibat kasus penistaan agama yang dituduhkan pada dirinya, ia begitu aktif mendatangi kantor polisi untuk melakukan klarifikasi.


Ia begitu menghormati hukum yang berlaku, meskipun hampir sebagian besar masyarakat Indonesia tidak menganggap Ahok menista agama. Banyak tokoh ahli yang didatangkan dan membantah bahwa Ahok menistakan agama. Tetapi apa daya, desakan masa dengan demo berjilid-jilid membuat dirinya harus rela diputuskan bersalah dan akhirnya menjadi pesakitan di penjara.

Sikap kesatria Ahok harusnya dicontoh oleh tokoh-tokoh publik di negara ini. Pada akhir keputusan sang hakim pun, ia membungkukkan badan dan kepala sebagai wujud ketaatannya terhadap hukum negara ini, meskipun ia menganggap keputusan ini tidaklah adil.

Seorang Ahok adalah cerminan masyarakat minoritas di negeri ini. Keinginan untuk menjadi pemimpin dan mengabdi kepada masyarakat tidak mudah karena akan terbentur dengan hal-hal yang sensitif yaitu soal keyakinan. Mungkin bukan hanya di Indonesia saja, masih banyak orang-orang yang berfikir RASIS. Atau tepatnya dengan mudah diprovokasi terkait hal-hal yang berhubungan denga SARA.

Tidak hanya berhenti dengan simbol membungkuk, sebagai bentuk penghormatan Ahok terhadap hukum. Bahkan Ahok tidak mengambil bebas bersyarat, ia memutuskan untuk menjalani hukuman dengan penuh. Ahok lebih memilih bebas murni.

Jika Ahok yang sudah melakukan banyak hal untuk masyarakat saja bisa taat hukum, mengapa Amien Rais tidak bisa mengikuti proses hukum yang sedang dilakukan?

Inilah salah satu alasan saya, mengapa saya mendukung Jokowi dua priode, sebab banyak hal-hal gak masuk akal dan sikap-sikap arogan sering dipertontokan oleh pihak oposisi di negeri ini. Meskipun begitu, masih ada yang cinta mati terhadap mereka.

Tokoh-tokoh oposisi itu tidak bego seperti yang terlihat, justru mereka itu orang pintar. Itu terbukti dari gerak cepat kubu oposisi menggunakan isu pengroyokan Ratna Sarumpaet sebagai amunisi dalam menyerang pemerintah. Lalu siapa yang begok? Yang begok adalah orang-orang yang percaya terkait isu Ratna bonyok dikeroyok. Dan giliran pada akhirnya kebohongan terkuak, tokoh-tokoh oposisi cuci tangan dan merasa sebagai korban. Kan aneh. Udah ah, itu aja…

#JokowiLagi

Sumber: 
https://seword.com/politik/masih-di-oposisi-saja-amien-hingga-rizieq-tak-taat-hukum-apalagi-jika-berkuasa-bandingkan-dengan-ahok-iID90sGqQ

No comments:

Post a Comment