Breaking

Tuesday, October 16, 2018

Perang Fiksi Jokowi dan Prabowo. Mana yang Lebih Berbobot?


NEWSWinBigLose.com - Pidato Jokowi menjadi heboh saat pembukaan Annual Meeting Plenary IMF dan World Bank di Nusa Dua Bali. Dalam pidato tersebut Jokowi menggunakan film. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Jokowi bukan yang pertama kali. Sebelumnya dia mengatakan kondisi ekonomi global saat ini sedang menuju perang tak terbatas atau infinity war, salah satu seri Film Avengers yang dirilis beberapa waktu lalu.

Jokowi dan para menteri-nya merupakan Avengers. Ia bercerita ada Thanos, sosok yang mengancam memusnahkan setengah populasi bumi di dalam film tersebut. Dari apa yang disampaikan, Jokowi sedang menyampaikan dua hal. Pertama, menyampaikan pesan secara lebih sederhana pada dua kalangan. Yang pertama adalah pemimpin dunia dan yang kedua kalangan anak muda.

Sebagai kepala negara, Jokowi perlu dukungan dari berbagai pihak dalam menjalankan kebijakannya. Film dipilih karena merupakan salah satu media yang digemari kaum milenial. Makanya ketika ada analogi sebuah film maka tidak lepas untuk menarik simpati kaum milenial. Sekaligus memberikan penjelasan yang lebih sederhana di ruang publik.

Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Jokowi merupakan kkritik tajam yang relevan dan mudah dipahami oleh kebanyakan audiens. Peraihan simpati dari kalangan muda hanya efek sampingnya. Isinya mengkritik terhadap dunia-dunia maju yang berkembang, yang saling ingin mengalahkan tapi lupa dengan ancaman yang lebih besar.

Baca : Berita vilar Bocah Berbaju Pramuka Teriak Ganti Presiden, Buwas Turun Tangan

Jokowi juga dinilainya memilih film karena memahami seni dalam berpidato. Dia ingin keluar dari kebiasaan pidato yang membosankan, meski justru gimmick-nya yang banyak diterima. Ini menjadi nilai positif bagi Jokowi. Bahkan, secara tidak langsung ini dapat menaikan elektabilitas Jokowi untuk Pilpres 2019.

Kubu oposisi sebenarnya menyadari betul isi pidato tersebut. Serta mengetahui, dampaknya sangat luas. Untuk itu, kubu oposisi kepanasan dengan apa yang dilakukan. Apa yang dilakukan oleh Jokowi, ini memberikan sebuah harapa bahwa Indonesia menjadi lebih baik. Hal yang paling telak adalah Prabowo kalah telak dalam strategi. Di mana Prabowo mengutip karya fiksi 'Ghost Fleet' dalam pidatonya untuk menyampaikan hipotesis atau ramalan, bukan analogi, mengenai Indonesia yang bisa bubar di 2030.

Itu hipotesis siapapun boleh menyampaikan hipotesis. Boleh jadi beliau sudah mendapatkan data, fakta, teori atau gabungan semuanya, maka sah sah saja. Nanti tinggal lihat apa benar 2030 akan terjadi. Sayangnya, hal disampaikan oleh Prabowo hanya sebuah khayalan. Di sini juga kita menandakan bahwa Prabowo sedang memainkan ketakutan kepada masyarakat.

Sebagai rakyat jelata, saya mengamati ada banyak ketakutan yang Prabowo lemparkan. Prabowo sudah mengungkapkan bahwa Indonesia sedang sakit. Kita mengetahui, ini adalah kebohongan. Jika kebohongan yang diulang berkali-kali, masyarakat akan dipaksa percaya tentang kebohongan yang dilakukan. Prabowo menyampaikan kritikan berupa hipotesis. Tujuan Prabowo melemparkan hipotesis itu tentu untuk mendulang simpati dari masyarakat.

Baca : Ah, Ternyata Bonus Belum Cair

Pesannya, jika pemerintah terus tidak bekerja dengan benar maka pada 2030 Indonesia akan buyar. Jika hipotesanya benar, maka kredibilitas pesan Prabowo akan naik. Namun jika yang sebaliknya terjadi maka justru akan menjadi bumerang bagi mantan Danjen Kopassus itu. Efeknya, dari apa yang dilakukan oleh Prabowo selama, elektabilitasnya seringkali menurun dan bahkan stagnan.

Sayangnya, hal ini tidak difahami oleh Prabowo. Terakhir, Prabowo malah membuat kekacauan dengan ucapan yang mengungkapkan Indonesia sedang sakit dan ugal-ugalan. Padahal, hal ini dibuat olehnya yang melemparkan sejumlah pesimisme kepada masyarakat. Untuk stategis menjatuhkan seseorang Prabowo sangat pandai. Sayangnya, Prabowo tidak memberikan penawarnya.

Kalau tidak benar maka kredibilitas pesan akan dipertanyakan, kalau itu terjadi maka kredibilitas pesannya meningkat. Pesannya, bukan orangnya. Tapi itu masih terlalu jauh pandangan itu tidak terlalu berpengaruh pada elektabilitas sekarang. Terlepas dari hal itu, penggunaan karya fiksi dalam pidato dengan tujuan mengkritik adalah hal yang baik dari kedua kubu.

Mengkritik dengan menggunakan media yang diketahui banyak orang terkesan lebih elegan dan mudah dipahami sehingga tak perlu ditanggapi sebagai khayalan. Cara pandang dua-duanya adalah keduanya punya kelebihan dan kekurangan. Kalau dimaknai sebagai kritik dengan analogi fiksi itu sah-sah saja, itu kritik yang elegan, cara yang baik, tidak menohok, mengajak berpikir biar mudah dipahami.

Sumber:
https://seword.com/umum/perang-fiksi-jokowi-dan-prabowo-mana-yang-lebih-berbobot-QUrX2YOwu

No comments:

Post a Comment