Breaking

Monday, October 1, 2018

Prabowo, SBY Kagumi China, Lalu Kenapa Salahkan Jokowi?


NEWSWinBigLose.com - Prabowo dinilai membantu menghapuskan citra Jokowi sebagai antek Tiongkok. Dengan demikian, isu yang bisa menyerang Jokowi dalam Pilpres mendatang satu-satu mulai terbantahkan. Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jabar Jokowi-Maruf Amin, Dedi Mulyadimengatakan, Prabowo Subianto menghadiri acara peringatan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) belum lama ini.

Prabowo Subianto ditemani Agus Harimurti Yudhoyono diketahui menghadiri Peringatan Hari Nasional Cina. Tepatnya, di Hotel Shangri-La, Jakarta, pada Kamis (27/9) lalu. Mereka hadir atas undangan Duta Besar Cina untuk Indonesia, Xiao Qian.

Hal itu secara tidak langsung mengungkap fakta kepada masyarajat bahwa tidak hanya Joko Widodo saja yang selalu berhubungan dengan Tiongkok. Sehingga, anggapan Jokowi pro antek asing sudah tidak relevan dijadikan komoditas politik.

Bila diperkenankan saya kaji pakai ilmu cocokologi dengan pisau bedah teori konspirasi. Jadi begini, dengan diundangnya Pak Prabowo ke sana sepertinya menandakan Cina sedang mengejawantahkan strategi Sun Tzu yang disebut “menaklukkan orang tanpa berperang” (bu zhan er qu ren zhi bing).

Sementara kedatangan dan pengakuan Pak Prabowo perihal krusialnya Cina bagi perkembangan ekonomi Indonesia khususnya, adalah bentuk keberhasilan Cina menerapkan strategi yang dielu-elukan Sun Tzu sebagai “strategi paling mujarab” (shan zhi shan zhe ye) itu.

Siapa yang menang banyak? Jelas Cina dan pihak Jokowi yang selalu diolok-olok sebagai antek aseng. Pasalnya, dengan begitu, baik Cina maupun Jokowi sama-sama tak perlu repot-repot lagi “berperang” kata dan data untuk membuktikan kepada oposisi bahwa kerja sama keduanya adalah hal yang bisa diterima sekaligus lumrah belaka.

Sebenarnya, jika kita mengikuti perkembangan relasi Indonesia-Cina dari masa ke masa, hubungan kedua negara di era Jokowi tak terlalu banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan periode pemerintahan sebelumnya.

Kalau yang dipermasalahkan adalah “eksodus” tenaga kerja asal Cina, Indonesia sesungguhnya sudah menjadi tuan rumah buruh Cina sejak zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertahta.

Biro Statistik Nasional Cina mendata, pihaknya mengirim 21.109 pekerja untuk menggarap proyeknya di Indonesia pada 2011. Lantas menukik menjadi 3.523 saja pada 2012. Lalu naik kembali ke 7.985 pada 2013. Kemudian terdongkrak menuju 15.689 pada 2014. Kini, di era Jokowi, angkanya tak terlampau jauh berbeda, bukan?

Jika yang dipersoalkan adalah defisit perdagangan, ketimpangan neraca perniagaan Indonesia terhadap Cina justru dimulai pada 2008, ketika masih eranya SBY. Makanya saya berkesimpulan bahwa pondasi relasi Indonesia-Cina era Jokowi dibangun oleh SBY. Jokowi hanya bertindak sebagai penerus plus eksekutor dari kerangka kerja sama yang diteken selama 10 tahun SBY berkuasa.

Tuan mestinya masih ingat, cuma berselang enam bulan sesudah dilantik sebagai Presiden Indonesia, SBY pada 25 April 2005 langsung menandatangani kesepakatan Kemitraan Strategis Indonesia-Cina dengan Presiden Hu Jintao. Setahun sebelum lengser, 2 Oktober 2013, SBY bersama Presiden Xi Jinping sepakat meningkatkan hubungan kedua negara menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif.

Karena itu, saat Wakil Ketua MPR Cina Wang Jiarui berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan SBY pada pertengahan September 2014 silam, Wang mengapresiasi hubungan bilateral Indonesia-Cina pada era SBY telah “mencapai tingkat yang terbaik dibanding era-era sebelumnya.” SBY pun berharap Jokowi yang segera dilantik sebagai presiden baru karena “bisa menjalani hubungan yang baik [juga] dengan Tiongkok.”

Benar, Jokowi tidak mengecewakan harapan SBY tersebut. Ajaibnya, tatkala Jokowi bekerja sama dengan Cina sesuai koridor yang dirancang oleh SBY sendiri, SBY dalam pidatonya di Universitas Al Azhar, Jakarta, pada 27 Agustus 2016, malah nyinyir sambil memperingatkan Jokowi agar pembangunan ekonomi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya “jangan hanya dilakukan oleh Tiongkok, apalagi kalau dikontrol oleh Tiongkok”.

Begitulah, saya mendadak teringat kata Pak Prabowo yang konon bukan pendapat pribadinya, “Orang lain bicara bangsa Indonesia aneh, bicaranya apa, kerjanya apa. Jadi bingung gitu lho, apalagi para pimpinannya, bicara apa kerjanya apa?”

SBY dan Prabowo sama-sama mengagumi China, lalu kenapa mempermasalahkan Jokowi yang kerjasama dengan China? Kita bisa belajar dengan “proporsional” ke negeri ini karena bisa maju walaupun harus mengurus rakyatnya yang berjumlah milyaran.

Sumber :
https://www.merdeka.com/politik/prabowo-dinilai-bantu-jokowi-hapus-stigma-antek-china.html
https://seword.com/politik/prabowo-sby-kagumi-china-lalu-kenapa-salahkan-jokowi-OElUR-k5N


No comments:

Post a Comment